Monday, March 27, 2017

Bagi siapa saja yang hendak menekuni dunia penerjemahan, berikut ini adalah intisari dari pengalaman pribadi pemilik ProBahasa Translation. Mungkin beberapa tips akan bertentangan dengan kebanyakan penerjemah mapan pada umumnya atau penerjemah yang sudah mengaku sakti mandraguna, tetapi percayalah bahwa kami sudah siap menanggung aneka bully-an hingga namun tidak terbatas pada hujatan. Kami sudah sering mendapatkan itu dari sesama kami dan kami tetap maju tak gentar membela kebenaran.

ProBahasa Translation terlahir dari sebuah kegiatan freelance, dari pemain solo hingga menjadi sebuah tim freelance, lalu membentuk sebuah organisasi yang berbadan hukum dengan dukungan penuh dari para penerjemah freelance. Jadi, sebagai informasi saja proyek yang kami terima, sebagian besar akan dialihkan kepada penerjemah freelance langganan kami, lalu baru dibagi-bagi di dalam rumah kami atau penerjemah internal kami. Sistem ini tentu kontra-penghasilan, tetapi kami tidak menganggap demikian. Tuhan adalah kontra-ketidakadilan, dan kami percaya semuanya pasti adil apa pun caranya.

Nah berikut ini beberapa pertanyaan acak.

1) Saya harus mulai dari mana?
Nah, pertanyaan ini samar, tapi kami akan menjawabnya 'mulai dari mana saja dan dengan siapa saja'. Anda harus memantapkan niat Anda terlebih dahulu. Anda harus tahu segala risiko menjadi seorang penerjemah, mulai dari sepi job, sakit kepala tipis-tipis, mata berkunang-kunang, hingga sakit keras yang banyak diderita oleh penerjemah senior kebanyakan. Maka, mulailah dari niat yang mantap!

2) Saya harus mencari pekerjaan terjemahan ini di mana?
Pertanyaan ini sepertinya tampak sepele atau jika Anda mengajukan pertanyaan ini forum-forum penerjemahan profesional, jawabannya pasti beragam. Mulai dari cari dong di Google, Googling dulu baru nanya, hingga jawaban yang manusiawi seperti Anda bisa ikut di forum-forum lokal atau melamar ke agensi-agensi penerjemahan lokal dst...
Nah, kami ingin berbagi sedikit dengan Anda tentang kisah kami mulai menemukan pekerjaan penerjemahn ini. Dulu, sekitar tahun 2008, team lead kami adalah seorang guru SD yang sedang membutuhhkan pekerjaan tambahan untuk kebutuhan keluarganya. Kebetulan di kantornya dulu, dia diberi fasilitas yang lumayan, sebut saja internet dengan kecepatan tinggi. Iseng mencari, dia diarahkan ke sebuah situs web agensi penerjemahan yang ada di Jakarta dan di salah satu kolomnya ada tulisan "Dibutuhkan penerjemah lepas. Kirim lamaran ke axxxxxxxxxxxns@gmail.com" . Dia mengajukan lamaran seketika lewat email dan dalam beberapa menit kemudian, dia pun langsung dikontak oleh pemilik agensi itu dan jadilah dia seorang penerjemah PEMULA pada waktu itu hingga beberapa tahun kemudian. Nah, kawan-kawan ProBahasa. Dunia online atau internet ini sangat luas, jadi jangan sibuk mencari yang tidak jelas, cari yang jelas-jelas saja. Anda bisa menemukan pekerjaan penerjemahan ini melalui internet dengan aneka platyformnya (Facebook, forum, situs web, dll). Anda harus pandai mengetikkan kata kunci di bar Google atau mesin pencari yang lain, contohnya seperti di gambar ini:
Contoh mengetikkan kata kunci di Google
Nanti bisa dimodifikasi sendiri sesuai dengan pasangan bahasa yang menjadi fokus pekerjaan Anda.

3) Kalau saya sudah melamar, kemudian dapat panggilan atau respons dari pemilik agensi, dan ditanyakan berapa tarif yang pantas untuk saya, berapa saya harus menyebutkan?
Nah kawan-kawan ProBahasa Translation! Kami ingin mengajak Anda berpikir kritis dalam hal ini. Kami tahu bahwa pertanyaan semacam akan menimbulkan kontroversi, tetapi percayalah bahwa ini semua kami tuliskan berdasarkan pengalaman kami.

Suatu ketika ada perusahaan penerjemahan yang sedang membutuhkan jasa penerjemahan dengan spesifikasi yang tidak ditentukan. Bisa saja perusahaan ini merekrut penerjemah dengan berbagai latar belakang dan pengalaman, termasuk lama pengalaman menerjemahkan. Pertanyaannya, jika Anda adalah perusahaan penerjemahan dan ingin menerjemahkan dokumen, katakanlah, hukum yang sangat sulit, lalu datanglah berbagai pelamar dengan status yang berbeda-beda dan tarif yang berbeda pula, apakah Anda akan mencari:
  1. Penerjemah pemula dengan tarif Rp700/kata sumber
  2. Penerjemah berpengalaman dengan tarif Rp700/kata sumber
Nah, pertimbangan Anda sangat jelas. Kenapa saya harus repot-repot membayar mahal penerjemah pemula dengan tarif yang lumayan fantastis sedangkan kualitasnya belum teruji. Saya pilih penerjemah nomor dua saja, saya yakin hasilnya lebih bisa dipertanggungjawabkan daripada yang nomor satu. Nah kira-kira kasarnya begitu ilustrasinya.

Jika Anda penerjemah pemula, Anda boleh memasang tarif sama dengan penerjemah senior atau profesional yang sudah malang melintang, tetapi berpikirlah lagi, kira-kira kalau ada dua penerjemah dengan pengalaman yang berbeda dan tarifnya sama, kira-kira, manakah yang dipilih? Anda sebagai penerjemah pemula atau orang lain yang sudah sangat profesional? Jawabannya sudah jelas ya.
Kami sering mendapatkan pelamar baru dengan pengalaman nol dan saat kami membaca tarif yang diminta, kami lumayan shock karena rata-rata mereka mematok tarif antara Rp500, 700, bahkan ada yang Rp1000. Untuk penerjemah pemula, ini rasanya seperti blunder bagi dia. Silakan siapa saja penerjemah mapan yang membaca artikel kami protes di sini. Kami kembalikan lagi kepada diri Anda apakah Anda serta merta menerima tarif yang saat ini Anda terima? Jika Anda menjawab iya, Anda termasuk (isi sendiri titik-titik di bawah ini).

4) Lalu, idealnya berapa tarif yang pantas untuk penerjemah pemula?
Kami tidak bisa menyebutkan nomilanya berapa, tetapi ukurlah kemampuan Anda terlebih dahulu, kemudian kebutuhan Anda, kemudian hal lain yang menurut Anda perlu. Tidak semua orang itu diciptakan sama, begitu pula nasib semua orang. Maka, bijaksanalah dalam membuat patokan bahkan tarif. Salah sebut Anda dalam menentukan tarif sebagai penerjemah pemula tentunya akan berdampak pada aliran pekerjaan Anda dan ekonomi Anda.

Ketua tim kami punya pengalaman dengan tarif. Dia dulu mendapatkan tawaran pekerjaan dari salah satu perusahaan yang ada di Belanda. Dia bertanya kepada para senior dengan berbagai pendapatnya, ada yang tarif itu terlalu murah, kamu harus naikkan, jangan mau yang sekian, dan tibalah pada pendapat salah satu senior yang ada di Malang, sebut saja Mas Sutarto (tidak enak kalau kami tidak menyebut nama beliau karena beliau inilah yang memantapkan langkah kami, kami akan menyebut nama beliau di setiap tulisan terkait) yang kebetulan sekarang ini sedang ngetops bingit dengan rumah mewah dan studio barunya yang sepertinya nothing to compare di Malang. Beliau berpesan begini kepada ketua tim kami. Mas, diambil saja tarif itu, toh hitung-hitung itu untuk menambah pengalaman sampeyan sebagai penerjemah pemula. Jika suatu saat ini sampeyan sudah punya banyak klien dan merasa tidak nyaman dengan tarif itu, maka naikkan pelan-pelan dan jika perusahaan itu tidak mau, beralihlah ke klien yang lain yang bisa memberikan tarif yang lebih bagus dari itu.

Nah, nasihat beginilah yang harus selalu disampaikan dari hari ke hari. Nasihat ini tidak menyesatkan karena kami sendiri yakin bahwa nasihat ini didasarkan pada berbagai aspek, bukan nafsu belaka. Kawan-kawan penerjemah pemula, apakah Anda sudah mulai mengerti maksud kami?

5) JANGAN menerima job terjemahan GRATISAN, kecuali job itu mampu mendongkrak profil Anda.
Nah, baru-baru ini sedang marak meminta terjemahan gratisan di sebelah. Menurut kami, itu hak masing-masing orang dia mau menawarkan, toh ada juga yang mau saja menerima pekerjaan gratisan itu, dengan berbagai alasan, terutama ah buat nambah pengalaman dan ah ah yang lain. Kawan-kawan penerjemah pemula yang kami hormati! Percayalah di luar sana banyak pekerjaan gratisan yang eksposurnya lebih kuat dan hebat dari itu dan sebagai informasi, ini menurut pengalaman kami, dalam dunia pro bono internasional, biasanya pekerjaan gratisan itu tetap ada aturannya:
  1. Diposting di halaman situs web mereka sendiri
  2. Kompensasinya tetap jelas, mis., nama Anda akan dipajang di setiap file yang sudah Anda terjemahkan (kami melihat, ini tidak terjadi di Indonesia kebanyakan), diberi produk gratis, dll. Kalau Anda tidak mendapatkan itu, Anda sepertinya sedang dibohongi oleh rekan Anda, tinggalkan yang demikian.
  3. Atau menghubungi Anda secara pribadi
Nah, kawan-kawan penerjemah pemula. Anda harus berpikir ulang saat menerima pekerjaan gratisan. Kalau alasan Anda adalah untuk belajar, cobalah menerjemahkan untuk organisasi-organisasi sosial atau keagamaan sesuai dengan keyakinan Anda. itu lebih berpahala, bukan malah melakukan pekerjaan pro bono untuk lembaga yang tidak jelas.

Hingga tulisan ini selesai dibuat, tulisan ini berlatar belakang kejadian yang saat ini marak terjadi dan tentu saja nasihat yang ada di sini berlaku untuk penerjemah pemula yang berlatar FREELANCE. Mau curhat dengan kami? Silakan kunjungi kantor kami di Malang dan kita ngopi bareng sambil ngobrol. Semoga sukses selalu!

10 comments:

  1. Tepat sekali... saya juga punya kisah yang menarik di dunia terjemahan... misalnya, Anda bukan penerjemah legal dan tidak ada latar pendidikan hukum, dan baru sejedar menerjemah skripsi... trus cuma bisa bahasa inggris umum... tapi dengan tekad yang kuat dan terus ingin belajar maka kelak pasti bisa juga...

    ReplyDelete
  2. Artikel yang menarik, sekaligus menggelitik saya untuk mencoba melamar di ProBahasa...Ada peluang Pak?

    ReplyDelete
  3. Yang nomor 3 itu betul sekali. Sebagai penerjemah pemula, penentuan tarif itu harus rasional. Tidak bisa berpedoman pada tarif resmi dari Kemenkeu. Pada awal saya menerjemahkan, saya memasang tarif yang sangat rendah. Saya bahkan sempat dimarahi oleh dosen pembimbing saya karena memberikan tarif semurah itu. Kala itu, saya masih belum tahu tarif resmi dari Kemenkeu yang dipublikasikan di laman HPI. Akhirnya, dengan berbekal berselancar di Google, saya hanya menemukan agensi penerjemahan yang memasang tarif antara Rp 10.000,- hingga Rp 15.000,- per halaman. Ada juga yang memasang tarif lebih dari Rp 50.000,- tapi itu yang sudah memiliki jam terbang yang tinggi. Setelah mendapat wejangan dari dosen pembimbing saya, akhirnya saya menetapkan harga yang "wajar" tapi masih jauh di bawah harga yang ditetapkan Kemenkeu. Itu pun masih ada yang mengatakan tarifnya terlalu mahal, tapi saya tetap bertahan karena saya merasa harga itu sudah pas untuk saya setelah memperhitungkan waktu, tenaga bahkan biaya yang saya keluarkan (internet, listrik dll). Setelah satu tahun dan permintaan mulai banyak, saya menaikkan tarif saya. Setahun berikutnya, saya naikkan lagi. Jadi, saran dari beberapa penerjemah senior di grup penerjemah itu tidak selalu bisa kita aplikasikan di lapangan. Saya yakin penerjemah senior pun dulunya tidak serta merta memberikan tarif sesuai Kemenkeu ketika mereka baru menapaki dunia penerjemahan.

    Mengenai job gratisan yang beredar di salah satu grup penerjemah, saya miris juga melihatnya. Job penerjemahan anime atau komik dengan embel-embel sukarela akan lebih baik jika ditawarkan ke forum seperti IDWS atau IDFL, responnya akan lebih positif karena banyak orang yang akan bersedia membantu. Untuk pekerjaan yang tidak jelas bayarannya, yang janjinya akan dibayar setelah web itu mendapat pemasukan, penerjemah pemula perlu pertimbangan yang matang untuk menyambut tawaran itu. Apalagi web itu katanya baru. Tidak ada salahnya mencoba, tapi kalau mau mencoba juga harus pilih-pilih. Menurut saya, akan lebih baik jika membuat blog penerjemahan sendiri. Walaupun gratisan, tapi kita bisa menerjemahkan apa yang kita suka tanpa harus bimbang dan bertanya-tanya apakah kita akan dibayar/tidak oleh pemberi kerja.

    Aisyah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sharing-nya Mbak Aisyah. Anda sunggguh bijak dalam menyikapi area abu-abu 'dunia persilatan'

      Delete
  4. Sangat mencerahkan, terimakasih suhu

    ReplyDelete
  5. Penjelasannya bagus :) saya baru pernah menerjemahkan 20 hal proposal, dan selebihnya artikel buatan saya sendiri. Skg ditawari menjadi penerjemah lepas dan ditanya rate. Pertanyaan saya apakah satu rate berlaku untuk semua field? Terima kasih.

    Ps: jujur masih super bingung matokin tarif :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas pertanyaannya, saudara aloutte. Sebaiknya begitu karena pada dasarnya bukan soal kesulitan topik yang bicara, tetapi soal jam terbang kita pada akhirnya.

      Delete
    2. Terima kasih atas pertanyaannya, saudara aloutte. Sebaiknya begitu karena pada dasarnya bukan soal kesulitan topik yang bicara, tetapi soal jam terbang kita pada akhirnya.

      Delete


Share This Article